Situs Resmi Balai Arkeologi Palembang
Jadwal Sholat
Palembang
Imsak04:26 WIB
Subuh04:36 WIB
Syuruq05:51 WIB
Dzuhur11:56 WIB
Ashar15:04 WIB
Maghrib18:00 WIB
Isya19:07 WIB
2°59'LS, 104°47'BT
Ketinggian : 10 m
Arah kiblat : 65°27' (U-B)
 
Pengunjung
Tahun ini30864
Bulan ini2352
Hari ini24
Online1
129137
Sejak : 21/02/2009
 
Waktu Sekarang
 
Beranda > Jurnal Siddhayatra > Pola Permukiman Masa Pra-Kesultanan Palembang Darussalam

Pola Permukiman Masa Pra-Kesultanan Palembang Darussalam

POLA PERMUKIMAN MASA PRA-KESULTANAN  PALEMBANG DARUSSALAM
Aryandini Novita

 

Abstrak
 
Melalui pendekatan ekologi, diketahui bahwa aspek-aspek permukiman Kota Palembang ditempatkan sesuai kondisi geografisnya, yaitu di lahan yang lebih tinggi dari daerah sekitarnya yang berupa sungai dan rawa. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui tataletak aspek-aspek permukiman pada masa awal Kesultanan Palembang Darussalam serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dengan mengetahui tataletak aspek-aspek permukiman tersebut diharapkan akan mendapat informasi mengenai pola keruangan di suatu pusat pemerintahan pada masa Pra-Kesultanan Palembang Darussalam. Data artefaktual hasil ekskavasi arkeologi mengenai permukiman Kota Palembang masa Pra-Kesultanan secara kuantitatif tidak dapat seutuhnya digunakan sebagai data untuk merekonstruksi tata kota Palembang pada masa itu, tetapi hasil survei dan toponimi yang terdapat di wilayah Kelurahan I Ilir dan Sungaibuah berhasil diketahui batas-batas kota.

Kata Kunci: tataletak,  pemukiman, pra-kesultanan, Palembang, survei, toponimi

 

 

PENDAHULUAN
Kota Palembang merupakan salah satu kota yang tertua di Indonesia. Seperti umumnya kota-kota tua di nusantara, Palembang berada di daerah aliran sungai. Ibukota Provinsi Sumatera Selatan ini dibelah oleh Sungai Musi yang bermuara di perairan Selat Malaka. Sungai ini juga merupakan muara dari sungai-sungai yang tiga diantaranya dapat dilayari hingga ke daerah pedalaman, yaitu Sungai Keramasan, Ogan dan Komering.

Berdasarkan tinggalan arkeologi diketahui bahwa pemukiman di Kota Palembang telah berlangsung sejak masa Kerajaan Sriwijaya. Penelitian arkeologi permukiman di Kota Palembang yang selama ini dilakukan baru mencakup masa Sriwijaya. Melalui pendekatan ekologi, diketahui bahwa pada masa itu aspek-aspek permukiman ditempatkan sesuai kondisi geografis kota Palembang, yaitu di lahan yang lebih tinggi dari daerah sekitarnya yang berupa sungai dan rawa (Purwanti dan Taim 1995: 65-69).

Lokasi-lokasi tersebut kemudian berkembang hingga masa Kesultanan Palembang, bahkan hingga saat ini. Berdasarkan hal ini dan keberadaan situs-situs dari masa Kesultanan, secara geografis terlihat adanya pola yang sama dalam penempatan lokasi-lokasi pemukiman di kota Palembang. Hal ini dapat terlihat di  situs-situs arkeologi yang berasal dari masa Kesultanan terkadang juga ditemukan tinggalan-tinggalan arkeologi dari masa sebelumnya.

PERMASALAHAN

Dari penelitian-penelitian sebelumnya disimpulkan bahwa permukiman di Palembang merupakan multi-component site. Hal ini dapat terlihat di  situs-situs arkeologi yang berasal dari masa kesultanan terkadang juga ditemukan tinggalan-tinggalan arkeologi dari masa sebelumnya seperti yang dapat dilihat di wilayah Kelurahan I Ilir dan Kelurahan Sungaibuah, Kecamatan Ilir Timur II dimana di lokasi ini terdapat tiga situs yaitu Sabokingking, Gedingsuro dan makam Sultan Agung. Seperti yang telah diuraikan sebelumnya di wilayah tersebut diperkirakan merupakan lokasi keraton pertama kerajaaan Islam di Palembang yang pada uraian-uraian selanjutnya akan disebut sebagi masa Pra-Kesultanan Palembang Darussalam.

Sebagai suatu pusat pemerintahan maka tentunya di wilayah ini terdapat beberapa komponen yang merupakan pendukung dari keberadaan keraton tersebut. Berdasarkan hal tersebut, maka permasalahan yang akan dibahas dalam tulisan ini mengenai pola permukiman di kota Palembang pada masa Pra-Kesultanan Palembang Darussalam.

TUJUAN

Dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia, definisi kota adalah daerah perumahan dan bangunan-bangunan yang merupakan suatu kesatuan tempat kediaman dan juga merupakan pusat kegiatan pemerintahan, ekonomi, kebudayaan, dan sebagainya (1990: 153). Pada dasarnya kota merupakan tempat konsentrasi sejumlah besar orang, tempat masyarakat tinggal dan bekerja, adanya spesialisasi pekerjaan atau industri, perdagangan luar negeri dan menjadi pusat pelayanan bagi daerah-daerah di sekitarnya (Rappaport 1985). Tata kota adalah suatu pengaturan pemanfaatan ruang kota di mana terlihat fungsi kota sebagai pusat pelayanan jasa bagi kebutuhan penduduknya maupun kota itu sendiri.

Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui tataletak aspek-aspek permukiman pada masa awal Kesultanan serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dengan mengetahui tataletak aspek-aspek permukiman tersebut diharapkan akan mendapat informasi mengenai pola keruangan di suatu pusat pemerintahan pada masa Pra-Kesultanan Palembang Darussalam.

KERANGKA TEORI

Dalam berbagai definisi kota tercakup unsur keluasan wilayah, kepadatan penduduk yang bersifat heterogen dan bermata pencaharian non-pertanian, serta fungsi administrasi, ekonomi dan budaya. Unsur-unsur tersebut kemudian terwujud ke dalam fisik kota yang berupa komponen-komponen kota (Adrisijanti 2000:3). Komponen-komponen kota pada tiap-tiap periode berbeda-beda, tergantung pada kebutuhan masyarakat waktu itu. Sesuai dengan semakin berkembangnya sebuah kota maka komponen-komponen tersebut terwujud secara bertahap

Pada umumnya kota-kota yang berkembang pada masa Islam di Indonesia berdiri di pinggir sungai atau pantai dan memiliki sistem pertahanan tertentu. Tempat tinggal penguasa terkadang dikelilingi oleh benteng dengan kegiatan perekonomian berlangsung di luar benteng. Secara umum ciri-ciri tersebut sesuai dengan karakteristik kota Islam yang dikemukakan oleh Hourani, yaitu
?    Memiliki benteng,
?    Mempunyai kediaman penguasa yang terdiri atas istana, bangunan-bangunan pemerintahan, dan bangunan untuk pasukan pengawal,
?    Mempunyai fasilitas umum (civic center) yang terdiri atas masjid, madrasah dan pasar
?    Mempunyai perkampungan untuk penduduk dengan pengelompokan atas dasar etnis, agama dan ketrampilan,
?    Di luar benteng terdapat perkampungan untuk komunitas dengan beberapa pekerjaan tertentu dan pemakaman (Adrijanti 2000:27).

Kota merupakan salah satu organisasi sosial dari sekumpulan individu dalam jumlah yang cukup besar, sangat kompleks dengan berbagai strategi hidup yang kurang terikat lagi pada pertanian. Kompleksitas tersebut menunjukkan bahwa kota juga merupakan suatu pusat kegiatan pemerintahan, ekonomi, kebudayaan dan sebagainya. Kompleksitas kota pada dasarnya menciptakan pengelompokan-pengelompokan penduduk dan pemukiman antara lain sesuai dengan asal-usul, latar belakang ekonomi dan status sosial. Penempatan kelompok-kelompok ini kemudian akan terlihat dalam tata ruang kota.

Pengetahuan tentang tata ruang suatu kota dapat memberi informasi mengenai pola permukiman di suatu wilayah tertentu. Pola permukiman pada dasarnya merupakan refleksi lingkungan alam, tingkat teknologi dan keragaman institusi komunitas yang bersangkutan (Parson 1972:128; Inayanti 2000:192). Menurut KC Chang, pola permukiman merupakan cara bermukim sekelompok manusia dalam hubungan dengan lingkungan fisik karena itu dalam penelitian mengenai pola permukiman lingkungan fisik dimana permukiman itu berada merupakan salah satu variabel dalam pokok bahasannya (Chang 1972:26; Inayanti 2000:192).

PEMBAHASAN

Pada masa Pra-Kesultanan Palembang Darussalam keraton sebagai pusat peme

© 2014 Balai Arkeologi Palembang
Engine : JCMS 2011.04